Minggu, 27 Mei 2012

Realita lingkungan hidup

lagi2 tulisan saya masa SMA...

Masyarakat dunia saat ini diresahkan dengan fenomena Global Warming. Menurut prediksi yang telah dilakukan, bumi tidak akan bertahan lama lagi jika kondisinya dibiarkan terus menerus seperti sekarang. Hal ini mulai mendorong masyarakat dunia untuk memperbaiki tatanan lingkungan hidup menjadi lebih baik. Banyak hal yang mulai dilakukan dan diusahakan oleh masyarakat dunia, seperti peringatan hari bumi atau “Earth Day”, hari bebas kendaraan bermotor, pertemuan akbar antar negara-negara di dunia untuk membahas gejala Global Warming yang terus mengganas.
            Dari semua masalah yang telah muncul tentang lingkungan hidup, mungkin orang-orang di dunia akan bertanya tentang kehidupan dan lingkungan hidup untuk anak cucu mereka. Kebanyakan masyarakat dunia mulai resah memikirkan hal ini. Sebenarnya Global warming tejadi karaena banyak faktor. Contoh yang konkret dan sering mencuat di masyarakat Indonesia adalah masalah penabangan Liar. Hutan-hutan yang menjadi penyeimbang kehidupan dunia banyak berkurang saat ini. Hutan-hutan di Asia khususnya Indonesia makin berkurang. Hutan-hutan ini berkurang karena pembalakan liar yang digunakan untuk memenuhi permintaan akan kayu yang sangat tinggi dari wilayah Cina dan india karena kenaikan harga pangan, energi serta komoditas. Pembalakan liar yang terjadi ternyata lebih dikarenakan lahan akan digunakan sebagai lahan penanaman kelapa sawit yang digunakan untuk Biofuel. Pembalakan liar ternyata juga menyisakan masalah yang lain seperti berkurangnya keanekaragaman hayati. Selain itu, dengan alasan peningkatan devisa negara, peningkatan pendapatan daerah, penyediaan lapangan pekerjaan atau peningkatan pendapatan masyarakat lokal sering dijadikan dalih pembenaran aktivitas eksploitasi hutan atau alih fungsi kawasan hutan untuk kegiatan ekonomi lain-lainnya. Kadaan dan realita di lapangan lebih di perparah dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang terkesan lebih menonjolkan grassroot dan mengeksploitasi hutan tanpa pikir panjang. Hal ini terlihat dari penetapan Peraturan Presiden No.2/2008 yang berisikan tentang menyewakan hutan lindung dan hutan produksi untuk alih fungsi menjadi pertambangan skala besar dan peruntukan lain. Sewanyapu relatif murah, hanya Rp 300.000,00 per meter persegi. Belum lama ini di Indonesia jiga dihebohkan dengan kasus anggota DPR yang terjerat kasus suap pengalihan fungsi hutan lindug di kawasan kepulauan Riau, Sumatera. Hal ini juga turut memperparah keadaan lingkungan hidup di Indonesia. Wakil rakyat yang seharusnya dapat menjadi contoh untuk ikut serta dalam perbaikan lingkungan hidup ternyata hanya karena harta dan uang menjadi mau disuap untuk memuluskan pengalihan fungsi hutan.
            Masyarakat dunia saat ini mulai sadar akan pentingnya melestarikan lingkungan hidup. Walaupun hanya sebagian kecil dari masyarakat dunia namun itu dapat menjadi dorongan untuk menjaga eksistensi lingkungan hidup. Dari rasa prihatin dan perhatian akan lingkungan hidup yang hanya sebagian kecil dari mayarakat di dunia muncul seorang senator Amerika Serikat bernama Gerlofd Nelson untuk memperbaiki tatanan lingkungan hidup. Pada tanggal 22 April 1970, Gerlofd Nelson memproklamasikan Hari Bumi, sehingga tanggal itu sampai saat ini sering diperingati dengan nama “Earth Day” atau Hari Bumi. Sebuah langkah besar dari sebagian kecil keprihatinan akan lingkungan hidup. Sebenarnya Hari Bumi di Indonesia tidak sepopuler Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni. Beberapa gerakan peduli terhadap eksistensi lingkungan hidup ini patut untuk dilakukan. Berawal dari rasa keprihatinan yang kecil menjadi besar dan dapat menggerakkan hati setiap orang di dunia. Sudah saatnya kita memulai pengembangan lingkungan bersama-sama demi kepentingan di masa depan. Budayakan toleransi antar ciptaan Tuhan. 

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Realita lingkungan hidup"

Poskan Komentar